Rabu, 01 Februari 2012

Rusia Akan Produksi Massa S-500 di Tahun 2016

IslamTimes - Seorang kepala kedirgantaraan pertahanan Rusia mengatakan Moskow akan mulai memproduksi skala besar generasi baru sistem rudal S-500 permukaan-ke-udara tahun 2016.



"Biro desain kami bekerja untuk menyelesaikan pengembangan sistem-500 S antara 2015-2016," kata Novosti Yury Solovyev, wakil direktur umum perusahaan militer Almaz-Antey berbasis di Moskow, pada kantor berita RIA hari Jumat.

Dia mengatakan desainer Almaz-Antey bekerja untuk menyelesaikan sejumlah masalah, termasuk kurangnya komponen elektronik yang handal dan efisien untuk dipekerjakan dalam sistem anti-pesawat canggih.

Sistem S-500 akan dapat melacak dan menghancurkan rudal balistik dengan kisaran hingga 600 kilometer (hampir 373 mil). Dia akan dapat mendeteksi dan sekaligus terlibat hingga 10 target balistik supersonik, dan akan memiliki jangkauan tinggi penerbangan dari 40 kilometer (lebih dari 28 mil).

S-500 diharapkan untuk mengalahkan S 400 Rusia dan MIM-104 Patriot Amerika - rudal darat ke udara (SAM) sistem.

Selama pertemuan di Lisbon pada akhir November 2010, Rusia setuju untuk bekerja sama dengan NATO pada sistem rudal AS yang didukung pan-Eropa. Perjanjian Rusia dengan NATO membuat alis terangkat karena Moskow memiliki tradisi keras menentang sistem rudal.

Namun, Moskow menyerukan kontrol bersama dari sistem, tetapi Washington menolak untuk berbagi tanggung jawab bagi melindungi negara anggota NATO dengan pihak ketiga.

Fokus tambah Alutsista TNI AU , Malaysia dan Australia panik

F-16 TNI AU (Foto: PelitaOnline | Mihardi)

Jakarta, PelitaOnline – MENTERI Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro mengharapkan dukungan AS dalam realisasi hibah 24 Pesawat F-16. Permintaan tersebut secara langsung disampaikan kepada Menhan AS Leon Panetta saat melakukan kunjungan kerja di Nusa Dua Bali pada 23 Oktober.

Upgrade F-16 dari blok 25 menjadi blok 52 itu juga telah disetujui oleh Komisi I DPR RI pada Rapat Kerja tertutup tanggal 25 Oktober 2011, dengan skema pembayaran  melalui FMS (Foreign Military Sales).

Selain melakukan pertemuan bilateral dengan Purnomo, Menhan AS juga melaksanakan pertemuan informal dengan seluruh Menhan Asean dalam Asean Defence Ministers Meeting (ADMM) Retreat.

Saat bertemu dengan Leon Panetta, Purnomo juga mengharapkan bantuan dari AS untuk melancarkan negoisasi dengan Royal Australian Air Force (RAAF) dalam melancarkan bantuan pesawat C-130 dari pemerintah Australia.

Semua hal itu dilakukan oleh Kementerian Pertahanan RI, sebab Menhan merasa jika TNI AU masih memiliki banyak kekurangan dalam Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista).

“Dampak lain dari kekurangan Alutsista yang dimiliki TNI AU adalah sangat terbatasnya jam terbang yang dapat disediakan untuk pelaksanaan operasi dan latihan,” lanjutnya, di Jakarta, Kamis (27/10).

Sementara itu, kesempatan untuk mendapatkan F-16 untuk TNI AU itu terbuka setelah AS menawarkan hibah pesawat F-16 melalui kerjasama Government to Government(G to G).

Sumber: PelitaOnline.com

Anggaran TNI Fokus Alutsista

JAKARTA– Penambahan anggaran yang diterima TNI Angkatan Udara pada 2012 akan difokuskan untuk pengadaan dan peningkatan kemampuan alat utama sistem senjata (alutsista) sesuai program kekuatan pokok minimum (MEF).

Tahun ini TNI AU yang mendapat dana total sekitar Rp8,010 triliun akan mendapat tambahan beberapa pesawat tempur, angkut,maupun pesawat tanpa awak. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, dalam rapat pimpinan TNIAngkatan Udara telah ditetapkan beberapa sasaran untuk 2012, di antaranya percepatan pengadaan alutsista dan peningkatan kesiapan pesawat.

“Untuk peningkatan kemampuan, kebutuhan jam terbang pesawat 2012 adalah 60.061 jam dan 18 jam per hari untuk radar,”katanya kemarin. Sejauh ini ada beberapa program pengadaan pesawat yang sudah mulai berjalan dan tinggal menunggu kedatangan. Diantaranya 16pesawattempur ringan Super Tucano dari Brasil, 6 pesawat tempur Sukhoi asal Rusia, 24 unit F16 Fighting Falcon hibah dari Amerika Serikat, dan 4 pesawat angkut Hercules hibah dari Australia.

TNI Angkatan Udara juga membeli pesawat tempur latih dari Korea Selatan yakni T-50 Golden Eagle serta program bersama pembuatan pesawat tempur antiradar KFX/IFX. Pesawat- pesawat itu akan tiba di Indonesia secara bertahap dimulai pada tahun ini hingga 2024. Terkait pesawat Hercules hibah dari Australia,KSAU menuturkan, pihaknya sudah melakukan pengecekan ke Australia dan diketahui kondisinya masih baik.

“Ini hibah murni yang sudah disetujui Australia dan Amerika Serikat selaku produsen,”sebut dia. Tahun ini juga akan diluncurkan skuadron UAV atau pesawat tanpa awak di Lanud Supadio, Kalimantan Barat. Penempatan skuadron UAV itu melengkapi skuadron pesawat tempur Hawk 100/200 di sana.

Untuk memperluas jangkauan radar di Indonesia timur, akan dibentuk Satuan Radar 246 di Timika. Radar ini akan saling overlapping dengan jangkauan dua radar yang diresmikan November tahun lalu,yakni Satrad 245 Saumlaki di Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Satrad 241 Buraen di Kupang.

KSAU menegaskan, setiap instansi yang terkait dengan program pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI AU harus betulbetul merencanakan dan melaksanakan program sesuai prosedur dan tataran kewenangannya. Dengan demikian,program yang dilaksanakan akan berjalan lancar dan tidak menjadi permasalahan.

“ Anggaran yang diberikan oleh negara kepada TNI AU berasal dari rakyat dan diawasi oleh rakyat sehingga harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan dengan anggaran tersebut,”pesannya. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, jangkauan radar sekarang ini belum mampu mencakup seluruh wilayah Indonesia sehingga hal ini masih harus terus ditingkatkan.

Sejauh ini baru sekitar 2/3 wilayah yang mampu di-cover radar. TNI Angkatan Darat yang total mendapat anggaran sekitar Rp30,297 triliun pada 2012 berencana untuk menambah sejumlah alutsista sesuai kebutuhan.“ Kami mem-breakdown apa saja yang dibutuhkan dan hasilnya kita ingin membeli main battle tank (MBT),MLRS, rudal antipesawat,maupun meriam,” kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo.

TNI Angkatan Laut yang mendapat alokasi sekitar Rp9,024 triliun juga menambah sederet kapal perang,kapal angkut, maupun helikopter. “Kita sudah memesan kapal cepat rudal 60 meter,kapal tanker,juga helikopter Nbell. Kita sudah mulai persiapan untuk produksi kapal selam,” ungkap Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) LaksamanaTNI Soeparno

Sumber:  Harian Seputar Indonesia

Tahun 2012 Alutsista Baru Memperkuat TNI AU


Komandan Korps Pasukan Khas Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Amarullah memberikan penghormatan saat pengibaran bendera merah putih, pada saat upacara bendera 17 san dilapangan Merah Markas Komando Korpaskhas, Lanud Sulaiman. Bandung. (Rabu 18/05).

TNI Angkatan Udara kedepan akan semakin bertambah kekuatannya, sampai dengan kwartal pertama tahun 2012 mendatang, diharapkan beberapa alut sista akan datang memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara seperti pesawat Super Tucano dan Radar yang akan ditempatkan di Saumlaki dan Timika.
Hal tersebut disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Udara dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Komandan Korps Paskhas Marsekal Pertama TNI Amarullah, pada upacara bendera 17an, dilapangan merah Markas Komando Korpaskhas, Lanud Sulaiman, Bandung (18/5).
Menurut Marsekal TNI Imam Sufa’at, perencanaan tersebut, dilakukan berdasarkan analisis dan pengkajian secara logis, sehingga dapat memproyeksikan kebutuhan TNI AU berdasarkan persepsi ancaman dihadapkan pada keterbatasan kemampuan negara dalam membangun kekuatan udara. kekuatan minimal tersebut harus dimiliki dan difokuskan untuk dapat melaksanakan tugas TNI AU dalam mengendalikan wilayah udara nasional secara efisien, mengatasi dua trouble spot, dan mengamankan wilayah Alki.
Kasau Mengingatkan kepada seluruh personel, TNI AU sebagai salah satu komponen pertahanan negara, terus tumbuh dan berkembang seiring dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis. kekuatan Angkatan Udara merupakan salah satu komponen kekuatan yang dapat menjadi “detterent power” dalam upaya menyelesaikan konflik antar negara.
Membangun sebuah angkata udara yang kuat tentunya tidak mudah dan memerlukan dukungan anggaran tidak sedikit. keterbatasan anggaran negara dan tingginya tingkat ketergantungan teknologi, menjadi salah satu penyebab tersendatnya upaya pembangunan TNI Angkatan Udara kedepan. Tambah Kasu.
Mencermati keterbatasan anggaran dan suku cadang, TNI Agnkatan Udara telah mengantisipasi dengan beberapa langkah konkrit yang telah disiapkan. diantaranya adalah penggunaan jam terbang saat ini diprioritaskan pada kepentingan operasi dan maintaining skill para awak pesawat, paling tidak dapat mencapai minimum safety flying hours. Tuturnya.
Kondisi kedepan Kasau menambahkan, program pembangunan Angkatan Udara kedepan telah disusun dalam postur pembangunan Angkatan Udara sampai tahun 2024 serta kekuatan pokok minimum. dari situlah rencana program TNI Angkatan Udara dilaksanakan, program kerja untuk tahun kedepan telah dibuat sehingga tinggal menentukan kebijakan apa yang akan diambil untuk suksesnya rencan tersebut. kita tidak boleh terlena dan hanyut terhadap keberhasilan yang telah kita capai, akan tetapi kita perlu terus melaksanakan evaluasi terhadap setiap pelaksanaan tugas serta mengidentifikasi permasalahan yang timbul untuk segera dicarikan solusi pemecahannya terbaik.
Menyinggung situasi nasional saat ini Kasau mengingatkan. Integrasi nasional saat ini sedang mengalami ujian yang tidak ringan, beberapa kejadian seperti teror bom buku maupun kasus pencucian otak terhadap para pelajar dan mahasiswa telah meresahkan masyarakat serta dapat menjadi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa apabila tidak segera diselesaikan secara tuntas.
Kasau mengharapkan, seluruh komponen bangsa telah sepakat bahwa negara kesatuan republik indonesia adalah harga mati dan tidak bisa ditawar, untuk itu komitmen tersebut harus tetap kita pegang sampai kapan pun dan dimana pun. kita harus berani bertindak tegas jika ada wacana dan pemikiran yang menginginkan lepas dari nkri, karna hal itu akan menjadi benih bagi daerah lain untuk melepaskan diri dari negara kesatuan republik indonesia.
Mencermati kondisi tersebut, diperlukan peran serta secara aktif seluruh kompenen bangsa, adanya kemauan dari semua unsur untuk bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, dengan dilandasi cinta tanah air, rasa kebangsaan, kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan individu atau golongan, serta saling bahu membahu menyelesaikan masalah ini, Tegasnya.
TNI Angkatan Udara sebagai salah satu komponen bangsa yang menjaga integritas keutuhan wilayah NKRI, sangat berkepentingan dalam menyikapi masalah-masalah yang timbul, saya mengajak kepada seluruh prajurit TNI Angakatan Udara, PNS dan keluarganya untuk selalu waspada serta terus mengikuti perkembangan secara seksama, sehingga tidak terjerumus dalam kegiatan yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, satuan serta organisasi Angkatan Udara. kita yakin dengan kerja keras, bangsa indonesia, akan mampu untuk berdiri tegak menjadi bangsa yang besar, bangsa yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Repulik Indonesia.
Upacara diikuti pejabat TNI AU dilingkungan Lanud Sulaiman, Wadankorpaskhas, Danlanud Sulaiman, Komandan Insub Lanud Sulaiman, para jebat dan seluruh prajurit dan PNS dilingkungan Lanud Sulaiman.

KSAD: Indonesia Butuh Tank Kelas Berat!

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie, menegaskan, Indonesia membutuhkan tank kelas berat untuk menjaga integritas NKRI. Makanya TNI AD akan melakukan modernisasi alutsista, salah satunya pembelian tank Leopard meski bekas.

"Negara tetanga saja punya main battle tank (tank kelas berat). Kita? Medium saja tidak punya," ucap Pramono Edhie saat jumpa pers di Gedung Kemenhan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (16/1/2012).

Menurutnya, TNI AD tidak hanya kepincut dengan Leopard saja. Ia menuturkan, ada banyak jenis tank yang dijadikan pertimbangan.

"Tapi kita beli harus yang sudah teruji di medan tempur dan Leopard sudah tidak diragukan lagi," jelasnya.

Menurutnya keunggulan tank Leopard salah satunya yaitu mampu beroperasi di dalam genangan air dengan kedalaman 4 meter. Selain itu memiliki daya tembak peluru untuk sasaran jauh yang akurat.

"Untuk harga kita masih lakukan penawaran, bagi mereka yang curiga ada indikasi korupsi. Silahkan ikut kita ke Belanda nanti untuk melakukan penawaran, tapi ongkos ke Belandanya bayar masing-masing," pungkasnya dengan tertawa

Tahun 2012, TNI AD Belanja Tank Hingga Roket Tempur

Jakarta - Untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan, TNI AD akan melakukan moderniasi alutsista besar-besaran di tahun 2012 ini. Berbagai peralatan tempur seperti tank baja kelas berat dan persenjataan pertahanan udara akan diboyong ke Indonesia.

"Adapun untuk daftar belanja TNI AD ialah: main battle tank, senjata anti altileri berupa roket, multiple launcher rocket system dan meriam armed dengan fokus meriam kaliber 150 mm," kata Dirjen Sarana Pertahanan Kemenhan, Marsekal Muda Bogas Silaen, saat jumpa pers di Kantor Kemenhan Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (16/1/2012).

Selain itu, TNI AD juga berencana membeli senjata artileri pertahanan udara yang difokuskan pada peluru kendali. Tidak hanya itu, helikopter serbu dan helikopter jenis serang juga akan diborong.

"Serta kendaraan panser yang akan dibuat oleh PT Pindad. Kita harap dalam tahun ini, semuanya akan selesai," sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa TNI memiliki Anggaran sebesar Rp 150 triliun untuk belanja alutsista. 

Anggaran tersebut berlaku sejak hingga tahun 2014 dan dipecah menjadi tiga bagian yaitu Rp 50 triliun untuk percepatan Minimum Essential Force (MEF), Rp 45 triliun untuk perawatan dan Rp 55 triliun untuk belanja alutsista.

"Yang musti dipahami anggran itu tidak hanya untuk alutsista saja. Anggaran dalam pembelian alutsista itu multi years dan melalui proses yang panjang dan bertahap," jelas Purnomo.

TNI-Polri Punya Kebiasaan Buruk dalam Proyek Alutsista

TNI-Polri Punya Kebiasaan Buruk dalam Proyek Alutsista
Neta S. Pane




Liputan6.com, Jakarta: Proyek pembelian alat utama sistem pertahanan atau alutsista TNI dan Polri selama ini dianggap sebagai lahan korupsi. Akibatnya, pembelian alutsista terbengkalai, bahkan kualitas atau mutu tak sesuai yang diharapkan.

"Hal itu dikarenakan proses pembeliannya diduga sarat KKN dan kebanyakan menjadi korban uang komisi," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam keterangan pers, Ahad (15/1). Ia menganggap ada kebiasaan buruk di TNI dan Polri dalam pembelian alutsista yang tidak pernah lengkap.

Sehingga berakibat setelah dibeli dan saat dioperasikan, alutsista tak berfungsi baik. "Tidak tepat guna, bahkan tidak berguna sama sekali. Akhirnya ditelantarkan menjadi besi tua."

Karena itu, Neta menegaskan, dalam pengadaan alutsista, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) perlu mencermati, sejauh mana proyek itu sesuai dengan rencana strategis dan sejauh mana alutsista itu terukur. "Secara teknologi lebih tinggi atau minimal sama dengan negara tetangga, dan dalam pembelian alutsista ukurannya bukanlah kuantitas tapi kualitas," ujar Neta.

Menurut Neta, Indonesia tak perlu membeli alutsista dalam jumlah banyak. Yang terpenting sedikit tapi bermanfaat dan lebih mudah dalam penggunaan. Mengingat, Neta menambahkan, Indonesia adalah negara kepulauan, sehingga penggunaan alutsista efektif dan efisien.

"Jumlah banyak buat apa kalau kemudian mangkrak dan menjadi besi tua, seperti kapal perang eks Jerman Timur dan 200 jeep eks RRC yang tidak diketahui nasibnya saat ini. Sebab itu kebijakan Komisi I DPR yang menolak pembelian 100 tank Leopard dari Belanda patut didukung semua pihak