Selasa, 31 Januari 2012

Battle For Medium

Battle For Medium

                                                                                        kaskus.us
Dua jenis pesawat angkut militer kelas sedang (medium) sempat berkunjung ke Tanah Air beberapa waktu yang lalu. Bukan sekadar kunjungan biasa, kedua pesawat yaitu C-27 Spartan dan Casa C295 dipercaya merupakan kandidat buat mengisi kebutuhan pesawat pengangkut medium di lingkungan TNI AU.

Sejak aturan pelarangan terbang bagi armada pesawat angkut militer Fokker F-27 Troopship turun, bisa dibilang kemampun angkutan kelas sedang bagi TNI menjadi timpang. Fungsi angkutan udara militer kelas sedang yang secara teknis organisasi merupakan tanggung jawab Skadron Udara 2, Lanud Halim Perdanakusuma, saat ini hanya dilayani oleh armada pesawat CN235.

Namun kondisi seperti di atas tampaknya tak akan berlangsung lama. Pasalnya pemerintah telah mengalokasikan dana sekitar 350 juta dollar AS guna pengadaan armada pesawat angkut baru kelas medium yang dipatok buat menggantikan Fokker F-27. Dua jenis pesawat angkut militer kelas medium pun muncul. Jenis pertama adalah pesawat hasil kerja bareng AS-Italia, Lockheed Martim/Alenia. Aeronautics C-27 Spartan. Pesawat ini sempat memperagakan kebolehannya di Tanah Air pada bulan Maret lalu. Jenis kedua yaitu NC295 keluaran Airbus Military yang hadir untuk unjuk kemampuan di |Indonesia pada Oktober lalu.

C27 Spartan yang menjadi rival NC295 (foto: aviationnews.eu)
Kebutuhan pesawat baru bagi Skadron Udara 2 dengan perkiraan jumlah pesanan antara enam sampai sembilan unit ini dianggap sebagai bagian dari pangsa pasar pesawat angkut militer yang kelas medium yang wajib digarap. Data tentang permintaan pesawat militer kelas medium diseluruh dunia, seperti yang dikumpulkan Airbus Military bisa dijabarkan sebagai berikut. Secara global diperkirakan ada sebanyak 3.240 pesawat angkut ringan dan sedang sudah berusia 24 tahun yang sudah waktunya untuk diganti. Dari jumlah ini, sekitar 1.000 pesawat dioperasikan di kawasan Asia-Pasifik.

Lebih spesifik lagi juga disebutkan, antara tahun 2010-2011 terdapat 184 pesanan pesawat angkut sedang. Dari jumlah tadi, 50% dipasok Airbus Military (CN235/C295), 8% oleh PT DI (CN235), 9% dipasok Antonov (An-32/72/74) dan 34% oleh Alenia (C-27J). Selanjutnya ada lagi 105 pesanan pesawat patroli maritim yang dibuat dengan basis airframe pesawat angkut kelas medium. Disini kebutuhan-nya sebanyak 43% dipasok Airbus Military (CN235MP/C295MP), PT DI pasok 7% (CN235MPA), 18% oleh Alenia-ATR (ATR-42/ATR-72), sedang Bombardier pasok 32% (DHC-8, Q300/Q200)\

Identik dengan Hercules

Sampai tulisan ini naik cetak, pemerintah belum menjatuhkan pilihannya dari dari kedua jenis pesawat yang ditawarkan. Sebagai Generasi penerus tentu saja keduanya punya kemampuan lebih bila dibandingkan dengan F-27. Hal serupa juga berlaku untuk urusan teknologi. Sebagai gambaran tampilan di bagian kokpit, keduanya sama-sama sudah mengaplikasi teknologi digital dan diwujudkan dalam bentuk tebaran layar-layar MFD (Multi Function Display). Selanjutnya, keduanya sama-sama mengandalkan mesin turboprop yang notabene lebih ekonomis ketimbang mesin jet, namun dengan konfigurasi bilah baling-baling multi-balde. Sebuah barometer yang menunjukkan kalau keduanya masuk dalam klasifikasi sebagai pesawat generasi akhir.

Toh, sebagai sebuah brand “barang dagangan”, setiap jenis pesawat punya kelebihan yang wajib ditonjolkan buat meraih perhatian calon pengguna. Pada setiap promosinya, termasuk ke Indonesia, pihak pabrikan selalu menggambarkan kalau C-27J adalah pesawat yang identik dengan pesawat angkut legendaris C-130 Hercules. Satu-satunya perbedaan yang ada Cuma terletak pada kapasitas angkut serta jumlah mesin. Selebihnya bisa dibilang semuanya hampir sama.

Slogan tadi rasanya memang tak berlebihan mengingat pihak Alenia Italia sengaja menggandeng Lockheed Martin yang tak lain merupakan produsenHercules. Handal dan sekuat Hercules namun dalam sosok mini. Nah, dengan modal tersebut maka diharapkan nantinya setiap negara yang memiliki dan mengoperasikan Hercules seperti Indonesia akan pula mengoperasikan Spartansebagai unsur angkut pendukung. Sebuah pandangan yang banyak disukai di kalangan awak pesawat angkut.

Rangkul PT DI

Kokpit C295 sudah mengadopsi teknologi digital (foto: airbusmilitary.com)
Berbeda dengan Alenia, dalam dalam kaitan pelancar industri pesawat terbang Indonesia memproduksi C295 dan produk-produk lainnya, Airbus military menegaskan akan membantu PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam proses revitalisasi/restrukturisasi. Hal ini merupakan komitmen pucuk pimpinan Airbus Military Domingo-Urena Raso, yang berkunjung ke jakarta 6 juli lau. Komitmen tersebut kembali dikukuhkan pad 4 Oktober 2011 dalam bentuk “teaming agreement” tiga pihak yaitu PTDI, Airbus Military dan PT Perusahaan Pengelola Asset (PT PPA) sebagai pendukung dana untuk memproduksi dan memasarkan pesawat angkut sedang C295.

Secara tidak langsung, Airbus Military memang memberi kesempatan kepada Indonesia untuk memproduksi pesawat turunan dari CN-235 itu. Sejumlah komponen C295 selama ini sudah dipasok oleh PTDI, diantaranya outer wing, sirip tegak dan elevator yang identik dengan komponen CN235. Oleh karenanya pesawat yang berkunjung ke Indonesia Oktober lalu pada badannya tertera tulisan “NC295” (N singkatan dari Nusantara) dan “PT DI-Airbus Military”.

Airbus Military mendatangkan pesawat ini untuk memperagagakan kemapuan C295 di bumi Nusantara selama dua minggu, bekerja sama dengan PT DI dan TNI AU. Salah satu peragaan kemampuannya adalah STOL (Short Takeoff and Landing) di Pangkalan Udara Astra Ksetra Menggala, Tulangbwang, Lampung. Pesawat mendarat pendek sekitar 400 meter di landasan rumput Astra Ksetra. Sejam kemudian Captain Pilot Alejandro Madurga Cruz (dengan 13.000 jam terbang) didampingi Letkol Pnb TNI M. Mijib, Komandan Skadron Udara 2 memperagakan lepas landas pendek 600 meter.

Ikut dalam penerbangan pada 7 Oktober lalu dengan rute Halim-Astra Ksetra-Halim itu, Menneg PPN/Ka Bappenas Prof. DR. Armida Alisjahbana, Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, para wakil dari Angkatan Udara, Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Kepoisian.

“Pesawat ini, 60% mengandung komponen buatan Indonesia,” ujar Sjafrie setiba kembali di Skadron 2 dari penerbangan uji kemampuannya di Lampung. Keesokan harinya pesawat dioperasikan untuk menerjunkan pasukan di Lanud Sulaeman, Bandung. Misi peragaannya dilanjutkan kemudian ke Bali dan Indonesia bagian timur, antara lain Papua. Dari Indonesia, C295 Airbus Military ini melanjutkan misi serupa ke Vietnam, Thailand dan sebelum kembali ke Sevilla, Spanyol, singgah di Arab Saudi yang berminat pesan C295, pesawat CN235 tapi lebih besar dan lebih panjang tiga meter dengan mesin turboprop yang lebih besar tenaga dorongnya.

“Jenis Pesawat ini sudah dioperasiakn oleh beberapa negara Asia, Korea Selatan, Vietnam dan Thailand. Jadi sudah teruji disini (Asia). Kami proyeksikan untuk dapat memenuhi kebutuhan Angkatan Udara Indonesia, khususnya menggantikan pesawat Fokker F-27 yang masa operasinya akan habis dalam waktu dekat,” jelas Direktur Utama PT DI, Budi Santoso.

Bangun Basis di Bandung

 Andil pembuatan NC295 (foto: angkasa)
Kedepan, permintaan akan pesawat angkut ringan dan sedang akan terus meningkat, sehingga untuk memenuhi permintaan, Airbus military perlu mencari produsen di luar Eropa. Hal seperti ini telah dilakukan oleh pabrik Airbus yang memproduksi pesawat penumpang jet A320. Perusahaan yang berpusat di Toulouse, Perancis ini memilih Tianjin, China untuk memproduksi tambahan jenis pesawat penumpang tersebut. Jadi saat ini Airbus memiliki tiga pabrik produksi pesawat penumpang single aisle A320 yaitu masing-masing ada di pusatnya Toulouse, Perancis, Hamburg di Jerman dan Tianjin di China.

Demikian pula rupanya dengan Airbus Military yang melirik bandung, Indonesia untuk pesawat turbobprop angkut ringan dan sedang militer dan pesawat angkut penumpang, C212 dan C295. Tidak tanggung-tanggung, pabrik pesawat C212-400 sudah dipindahkan ke Bandung dari Sevilla, Spanyol. Kenapa PT DI yang dipilih? Tidak lain, Airbus Military sudah punya track-recor PT DI yang sebelumnya selama 35 tahun menjalin kerjasama dengan CASA Spanyol yang mempercayakan C212 diproduksi di Bandung. Kerjasama ini kemudian ditingkatkan lagi dengan co-design dan co-production pesawat rancangan bersama CN235.

“Impian saya, menjadikan Dirgantara Indonesia sebagai platform utama di belahan bumi sini (Asia Pasifik - Red) memproduksi pesawat ringan dan sedang (C-212, CN235 dan C295 - Red). Selain pasar domestiknya, pasar kawasan ini juga sangat menjanjikan,” jelas CEO Airbus Military Domingo Urena-Raso kepada Angkasa.

Menyinggung NC295 yang akan diproduksi di Bandung dengan kandungan komponen lokal lebih besar, Budi Santoso mengatakan bahwa PT DI dan Airbus Military saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyarankan agar kementeriaanya membeli sembilan pesawat, tiga pesawat pertama akan dipasok pabrik Sevilla, Spanyol dan tiga berikutnya oleh Bandung. “Kami belum menentukan sisa tiga pesawat terakhir dipasok oleh pabrik mana,” jelas Budi Santoso. Besar kemungkinan pasokan terakhir tersebut, menurut Angkasa akan pula dipasok oleh PT DI mengingat pada waktu itu (2014), pabrik pesawat di Bandung, Jawa Barat ini sudah full swing ban produksinya sejajar dengan pabrik Airbus di Sevilla, Spanyol.

Ini tidak mustahil, sebab selain impian itu, Domingo juga menyebutkan untuk menjadikan Bandung sebagai sister city dari Sevilla. Secara tidak langsung, dia ingin katakan bahwa produk yang duhasilkan Dirgantara Indonesia di Bandung, kualitasnya identik sama dengan produk Airbus Military di Sevilla. Dalam arti lainnya, PT DI (akan) masuk dalam lingkaran keluarga besar Airbus.

Sumber: Angkasa No.2 November 2011

Bell Helicopter dan PT DI Kerjasama Produksi Bell 412

Bell Helicopter dan PT DI Kerjasama Produksi Bell 412

                                                                          tabloidaviasi.com
Awal Desember lalu, ada berita yang cukup membanggakan bagi Indonesia. Bell Helicopter, salah satu pabrikan helikopter kondang asal AS, merilis berita tentang pesanan helikopter Bell 412 dari Indonesia.  Terus terang yang membanggakan bukan pada jumlah pesanannya, karena memang jumlah pesanannya “hanya” lima unit. Tetapi lebih pada kepercayaan pihak Bell Helicopter dalam menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam memproduksi Bell 412.

Seperti kita tahu, PT DI merupakan satu-satunya industri pesawat terbang di Indonesia. Selain mendapat lisensi untuk membuat helikopter Bell-412, juga mendapat lisensi untuk helikopter NBO-105 dan Super Puma NAS-332 dari Eurocopter (lisensi NBO-105 habis tahun 2009 lalu)

"Bell Helicopter punya sejarah panjang kemitraan dengan PT DI di Indonesia. Penjualan heli-heli ini adalah bagian dari keranga kerja kolaborasi industrial yang terus berlanjut. Kami percaya kemitraan ini akan terus berkembang dan kemungkinan akan diperluas di masa depan," tutur Larry D Roberts, Wakil Presiden Senior Bisnis Komersial Bell Helicopter sebagaimana dikutipKompas.com (2/12)

Bell Helicopter bukanlah produsen helikopter sembarangan. Pabrik helikopter milik Textron Inc ini merupakan penghasil helikopter handal kelas dunia. Banyak helikopter buatanya menjadi andalan banyak negara karena memang kualitasnya yang bagus.

                                                         (foto: Kompas)
Dilihat dari lembar sejarahnya, kerjasama produksi helikopter Bell 412 ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya pada tahun 1982, PT DI telah memulai kerjasama seperti ini. Kala itu PT DI (dulu masih bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio) menandatangani kesepakatan kerjasama pembuatan Bell 412. Di Indonesia helikopter itu mendapat nama baru yaitu NBell 412.

Antara tahun 1980-1990, PT DI telah membuat 27 unit Bell-412 SP dan 4 unit Bell-412 HP, sehingga total ada 31 helikopter yang dibuat pada kurun waktu itu. Meski begitu kerjasama PT DI dengan Bell sempat terhenti pada tahun 2000 karena krisis ekonomi sehingga berimbas pada permintaan helikopter dipasar dalam negeri.

Baru pada tahun 2009, kerjasama itu diperbarui lagi melalui penandatangananMemorandum of Understanding (MoU) untuk memproduksi helikopter Bell-412 EP (Extra Performance) di Indonesia. Dalam kerjasama itu, helikopter akan dibuat di Amerika Utara sedangkan perakitan dan penyerahannya kepada pembeli dilakukan oleh PT DI.

Helikopter ini merupakan varian teranyar dari Bell 412. Dibanding versi sebelumnya, Bell-412 EP memang telah mengalami berbagai penyempurnaan. Varian anyar ini memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh varian sebelumnya. Kelebihan itu antara lain kapasitas mesin yang digunakan jauh lebih besar. Kemudian memiliki sistem autopilot yang mampu menahan helikopter terbang stabil di udara secara otomatis. Serta tak ketinggalan penggunaan peralatan digital yang terpasang di kokpit pesawat.

Bell-412 EP merupakan salah satu produk andalan Bell Helicopter dalam meraih pangsa pasar helikopter angkut dunia. Melihat segala keunggulan yang dimilikinya, maka tak salah jika helikopter ini kemudian menjadi salah satu pilihan para pembeli. Di Indonesia, perusahaan swasta dan TNI Angkatan Darat telah menggunakan helikopter ini. Selain Indonesia, tercatat heli ini juga dioperasikan oleh Pakistan dan Kanada

Foto-foto N-219

Cutaway N-219 (foto: noviarli.blogspot.com)
Sinergi industri dalam negeri dalam membuat N-219 (foto: PT DI)
Mock-up N-219
Desain kokpit N-219 (flightglobal.com)
Ruang kokpit N-219 (foto: Angkasa)
                                                                                                                      BPPT

N219 sebagai pesawat patroli (foto: noviarli.blogspot.com)
N-219 sebagai ground attack aircraft (foto: noviarli.blogspot.com)
Sebagai ground attack aircraft dilengkapi dengan machine gun (foto: noviarli.blogspot.com)
N-219 sebagai Disaster Relief Aircraft (foto: noviarli.blogspot.com)
Desain kabin N-219 tipe medical evacuation (flightglobal.com)
Kabin N-219 tipe airliner (foto: PT DI)
Interior N-219 (foto: PT DI)

Bell Helicopter dan PT DI Kerjasama Produksi Bell 412

                                                                          tabloidaviasi.com

Awal Desember lalu, ada berita yang cukup membanggakan bagi Indonesia. Bell Helicopter, salah satu pabrikan helikopter kondang asal AS, merilis berita tentang pesanan helikopter Bell 412 dari Indonesia.  Terus terang yang membanggakan bukan pada jumlah pesanannya, karena memang jumlah pesanannya “hanya” lima unit. Tetapi lebih pada kepercayaan pihak Bell Helicopter dalam menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam memproduksi Bell 412.

Seperti kita tahu, PT DI merupakan satu-satunya industri pesawat terbang di Indonesia. Selain mendapat lisensi untuk membuat helikopter Bell-412, juga mendapat lisensi untuk helikopter NBO-105 dan Super Puma NAS-332 dari Eurocopter (lisensi NBO-105 habis tahun 2009 lalu)

"Bell Helicopter punya sejarah panjang kemitraan dengan PT DI di Indonesia. Penjualan heli-heli ini adalah bagian dari keranga kerja kolaborasi industrial yang terus berlanjut. Kami percaya kemitraan ini akan terus berkembang dan kemungkinan akan diperluas di masa depan," tutur Larry D Roberts, Wakil Presiden Senior Bisnis Komersial Bell Helicopter sebagaimana dikutipKompas.com (2/12)

Bell Helicopter bukanlah produsen helikopter sembarangan. Pabrik helikopter milik Textron Inc ini merupakan penghasil helikopter handal kelas dunia. Banyak helikopter buatanya menjadi andalan banyak negara karena memang kualitasnya yang bagus.

                                                         (foto: Kompas)
Dilihat dari lembar sejarahnya, kerjasama produksi helikopter Bell 412 ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya pada tahun 1982, PT DI telah memulai kerjasama seperti ini. Kala itu PT DI (dulu masih bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio) menandatangani kesepakatan kerjasama pembuatan Bell 412. Di Indonesia helikopter itu mendapat nama baru yaitu NBell 412.

Antara tahun 1980-1990, PT DI telah membuat 27 unit Bell-412 SP dan 4 unit Bell-412 HP, sehingga total ada 31 helikopter yang dibuat pada kurun waktu itu. Meski begitu kerjasama PT DI dengan Bell sempat terhenti pada tahun 2000 karena krisis ekonomi sehingga berimbas pada permintaan helikopter dipasar dalam negeri.

Baru pada tahun 2009, kerjasama itu diperbarui lagi melalui penandatangananMemorandum of Understanding (MoU) untuk memproduksi helikopter Bell-412 EP (Extra Performance) di Indonesia. Dalam kerjasama itu, helikopter akan dibuat di Amerika Utara sedangkan perakitan dan penyerahannya kepada pembeli dilakukan oleh PT DI.

Helikopter ini merupakan varian teranyar dari Bell 412. Dibanding versi sebelumnya, Bell-412 EP memang telah mengalami berbagai penyempurnaan. Varian anyar ini memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh varian sebelumnya. Kelebihan itu antara lain kapasitas mesin yang digunakan jauh lebih besar. Kemudian memiliki sistem autopilot yang mampu menahan helikopter terbang stabil di udara secara otomatis. Serta tak ketinggalan penggunaan peralatan digital yang terpasang di kokpit pesawat.

Bell-412 EP merupakan salah satu produk andalan Bell Helicopter dalam meraih pangsa pasar helikopter angkut dunia. Melihat segala keunggulan yang dimilikinya, maka tak salah jika helikopter ini kemudian menjadi salah satu pilihan para pembeli. Di Indonesia, perusahaan swasta dan TNI Angkatan Darat telah menggunakan helikopter ini. Selain Indonesia, tercatat heli ini juga dioperasikan oleh Pakistan dan Kanada

PT DIRGANTARA INDONESIA, OFFSET, DAN PASAR AEROSTRUCTURE GLOBAL

   Fasilitas aerostructure PT DI (foto: PT DI)

Jihad-Defence-Indonesia - Bandung : Dewasa ini, bisnis pembuatan komponen-komponen pesawat terbang tidak hanya menjadi milik perusahaan yang khusus membuat komponen-komponen pesawat terbang (aerostructure manufacturer), tetapi juga menjadi salah satu pilihan industri pesawat terbang dunia (aircraft manufacturer) yang biasanya identik dengan pembuatan pesawat terbang secara utuh.

Potensi bisnis aerostructure di pasar global sangat besar, mencapai miliarandolar Amerika Serikat (AS) per tahunTentunya tak ingin dilewatkan begitu saja oleh industri pesawat terbang dunia. Sehingga selain lini bisnis utama sebagai aircraft manufacturer, mereka memiliki usaha sampingan menjadi aerostructure manufacturer. Dengan kata lain, selain membuat pesawat terbang juga membuat komponen pesawat terbang atas pesanan perusahaan lain.

Alasan lainnya tentu saja persaingan industri dirgantara di tingkat global yang saat ini kian ketat, sehingga membutuhkan diversifikasi usaha dibidang aircraftmaupun non-aircraftApalagi raksasa industri pesawat terbang dunia macamAirbus dan Boeing umumnya fokus pada integrasi pesawat (aircraft integration), sehingga tidak membuat semua komponen pesawatnya, tetapi mensubkontrakan sebagian pekerjaan ke industri dirgantara negara lain. 

Bahkan dengan pertimbangan besaran biaya produksi pesawat yang semakin meningkat (sehingga sudah tidak memenuhi skala ekonomis), banyak industri pesawat terbang tidak memproduksi pesawat lagi dan beralih menjadiaerostructure manufacturer. Hal-hal semacam ini dilakukan industri pesawat terbang dunia seperti BAe System dan Fokker.

BAe System yang dulu dikenal sebagai produsen pesawat terbang sekarang beralih menjadi produsen komponen pesawat terbang dan tercatat menjadi salah satu supplier terbesar bagi pesawat terbang buatan Airbus. Begitu juga denganFokker yang pernah dinyatakan pailit tahun 1996, sekarang beralih menjadi produsen komponen pesawat terbang bagi Airbus seperti pembuatan komponencomposite outboard flaps pesawat Airbus A-350.

Flaps Boeing 737-300 yang dibuat PTDI (foto: PT DI)
PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) sendiri sebagai perusahaan yang bisnis utamanya bergerak dalam bidang produksi pesawat terbang, tentunya tidak bisa berharap produksi pesawat terbang menjadi satu-satunya sumber pendapatan perusahaan, karena penjualan per tahunnya belum tentu bisa menutup biaya operasional.

Sehingga membuat komponen pesawat terbang menjadi salah satu dimensi bisnis yang digeluti PT DI. Melalui Direktorat Usaha Aerostructure inilah, kegiatan utama membuat komponen pesawat terbang dilakukan. Tidak hanya membuat komponen pesawat terbang bagi pesawat terbang buatan sendiri,tetapi juga mengerjakan pembuatan komponen untuk kepentingan industri pesawat terbang negara lain.

Misalnya penyerahan set yang ke-2000 untuk komponen Airbus A-320/A-321 pada 20 Oktober lalu. Ditengah kondisi perusahaan yang belum pulih benar, tentunya ini menjadi sebuah tanda bangkitnya industri pesawat terbang yang berpusat di Bandung tersebut.

Offset

Sebenarnya jalan pembuatan komponen pesawat terbang dan helikopter sudah dirintis sejak lama oleh PT DI yang dulu masih bernama IPTN. Melalui kerjasama pembuatan pesawat CN-235 dengan CASA Spanyol, PT DI memasok seluruh komponen fuselage belakang dan bagian ekor termasuk sayap bagian luar (outer wing) pesawat CN-235.

Kemudian pembelian 12 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon pada tahun 1986 yang dilakukan dengan sistem offset (imbal produksi), sehingga memberi hak kepada PT DI untuk memasok sejumlah komponen meliputi forward engine access door, main landing gear door, wing flaperon, vertical finskin, weapon pylon dan fuel tank pylon. Ini tidak terlepas dari lobi yang dilakukan Menristek B.J Habibie sehingga akhirnya General Dynamics memberikan offset 35% dari harga pembelian pesawat.

Pembelian pesawat terbang dari industri pesawat terbang suatu negara, maka negara pembeli bisa meminta offset sebagai imbalan atas pembelian pesawat terbang tersebut. Dengan begitu, industri pesawat terbang di negara penjual akan mensubkontrakkan pembuatan aerostructure atau komponen-komponen pesawatnya ke industri pesawat terbang di negara pembeli.

Komponen sayap A-380 yang dibuat PT DI (Foto PT DI)
Hal ini bisa terjadi apabila negara pembeli mempunyai industri yang dapat menghasilkan komponen-komponen pesawat terbang yang sesuai dengan standar internasional. Cara ini memang sangat menguntungkan karena negara pembeli akan mendapatkan bagian pekerjaan dari pembeliannya, sehingga tetap memberdayakan industri pesawat terbang di dalam negeri. Selain itu juga mampu meningkatkan kemampuan dalam menguasai teknologi pembuatan komponen pesawat terbang yang lebih kompleks.

Melihat besarnya manfaat yang diperoleh industri dirgantara dari offset, perlu kiranya pemerintah menggulirkan kembali sistem offset yang dulu sempat diterapkan Menristek B.J Habibie di era Orde Baru. Offset bisa memberi kesempatan yang jauh lebih besar bagi industri dirgantara nasional untuk maju.Jika program offset ini diterapkan di Indonesia, maka bisa meningkatkan pangsa pasar aerostructure PT DI di tingkat internasional dan tentunya menggerakkan kembali roda bisnis perusahaan pesawat terbang dalam negeri.

Ambil contoh saja, pembelian pesawat Boeing B737-800NG oleh Garuda Indonesia, Boeing B737 MAX dan B737-900ER oleh Lion Air, ATR72-500 olehWings Air, Embraer ERJ-190 oleh Sriwijaya Air, dan Sukhoi Superjet-100 (SSJ-100) oleh Kartika Airlines. Saat ini, pembelian pesawat sebanyak itu tidak memberi manfaat apapun bagi PT DI, kecuali manfaat dalam bidang jasa perawatan pesawat (Maintenance, Repair, Overhaul-MRO) seperti yang dilakukan GMF Aero Asia, itupun jika maskapai penerbangan “tak lari” untuk memilih perusahaan MRO asing.

Sebenarnya Indonesia bisa mencontoh kesuksesan China yang telah menerapkan offsetPemerintah China mengharuskan industri dirgantara asing melibatkan industri kedirgantaraanya bila ingin memasuki pasar China. Hal seperti itu telah dilakukan Airbus dengan membangun pabrik pesawat penumpang A-320 di Tianjin China. Kemudian ada Embraer dari Brasil yang mendirikan perusahaan patungan Harbin Embraer Aircraft Industry di Provinsi Heilongjiang yang  khusus membuat pesawat jet ERJ untuk pasar China.

Selain itu masih ada Boeing yang membelanjakan jutaan dollar AS untuk komponen buatan China. Jadi jangan heran, jika pesawat Airbus, Embraer, dan Boeing yang lalu lalang di langit dunia mengandung begitu banyak komponen pesawat buatan China. Sayangnya pemerintah sebagai pembuat kebijakan belum melihat kearah sana.

Terlepas dari itu semua, sesungguhnya pangsa pasar aerostructure PT DI cukup bagus. Ini bisa dilihat dari semakin meningkatnya order komponen pesawat terbang. Pesanan komponen pesawat terbang yang sedang diselesaikan oleh PT DI diantaranya pembuatan komponen Airbus A-320/A-321 (program paragon),komponen sayap Airbus A-350, komponen fuselage dan tailboom helikopter EC-725/EC-225.

Bahkan pada tahun 2008 lalu PT DI mendapatkan penghargaan "Best Performance Supplier 2007" dari Spirit Aerosystems (Europe) Ltd, Inggris. Ini tentunya bisa menjadi bukti bahwa PT DI memiliki kemampuan yang mumpuni dalam pembuatan komponen-komponen pesawat berstandar internasional.

Seperti diketahui, untuk mendapatkan proyek pesanan komponen pesawat terbang itu tidak mudah, biasanya dilakukan melalui tender yang berarti harus bersaing dengan industri sejenis dari luar negeri atau melalui penunjukan langsung yang tentu saja membutuhkan kepercayaan yang tinggi dari pihakprodusen pesawat terbang.

Ditengah ketatnya persaingan industri dirgantara, pembuatan komponen pesawat terbang tentunya merupakan upaya PT DI untuk masuk menjadi supplier global. Sekaligus menjadi bukti bahwa industri dirgantara nasional mampu maju dan berkembang untuk bersaing di pasar global.

Sumber : KLIK DISINI